Sejarah

SEJARAH BINMAS NOKEN POLRI

Oleh: Eko SUDARTO

 

Kapolri Jendral Polisi Prof. Tito Karnavian, PhD membentuk operasi khusus untuk ditugaskan di Papua guna memelihara kondusifitas situasi kamtibmas dan memberdayakan masyarakatnya. Maka di akhir tahun 2017, terbentuklah Operasi Khusus Papua 2018, yang dalam perjalanannya menjadi Operasi Nemangkawi. Operasi ini menjadi unik karena memadukan unsur penegakkan hukum (hard approach) sekaligus operasi kepolisian dengan pola kemanusiaan (soft approach). Operasi soft approach yang dikedepankan ini dilakukan oleh fungsi Binmas Polri.

Di antara bulan Januari hingga Februari awal tahun 2018, merupakan sejarah awal terbentuknya Satgas Binmas Noken. Satgas Binmas Noken merupakan satu diantara 6 (enam) Satgas dibawah kendali Satgas Operasi Khusus Papua, yang kemudian dikenal dengan Nemangkawi. Nemangkawi merupakan nama lain dari Gunung di jajaran Pegunungan Tengah Papua yang sangat diagungkan dan dikeramatkan oleh rakyat Papua,

Konsep Binmas Noken berawal dari keinginan kuat dari Brigadir Jenderal Hery Nahak selaku Kepala Operasi khusus ini untuk menganti konsep Binmas Pioneer, agar lebih membumi (local wisdom). Kata “BINMAS” merupakan kepanjangan dari Pembinaan Masyarakat, yaitu salah satu fungsi di Kepolisian Republik Indonesia. Maka diskusi pencarian nama untuk mengganti konsep “Pioneer”-pun tak dapat dihindarkan di Posko Operasi, Jakarta.

Dalam berbagai kesempatan pertemuan yang terkadang dihadiri beberapa pejabat Operasi, Kaka Tornagogo, Ade Faizal Ramadhani, Ade Herimen, Kaka Mathius Fakhiri, Kaka Patrige Renwarin, Ade “Pajero” atau Rontini, Ade John Isir, Ade Afred Papare, Ade Semi, Dwi Indra, Kaka Nanang Rudi, Ade Era Adhinata dan banyak lagi anggota satgas lainnya. Tak terhitung berapa kali pertemuan dilakukan, walaupun materi pertemuan bukan sekedar mencari konsep “nama” yang pas untuk pendamping konsep “Binmas”, namun pada setiap pertemuan selalu menjadi bahan diskusi. Tak lepas dari MOP (joke-joke khas Papua) senantiasa mewarnai setiap pertemuan. Ada banyak usulan nama-nama, seperti Cendrawasih, Matoa, Honai, dan lain-lain, namun dirasakan belum juga sesuai dengan selera dan harapan. Hingga pada satu kesempatan, ditemukan satu kata yang bisa melekat cocok dan “pas”, yaitu “NOKEN”.

Kembali kepada sejarah awal, apa itu Binmas Pioneer? Dalam pandangan dan pengetahuan umum, konsep Binmas Pioneer  dibentuk pada era tahun 1991 oleh Kapolda Papua pada saat itu, yaitu Bapak Hindarto dan dikembangkan dengan kebijakan dan implementasinya oleh Bapak Muharsipin (Alm). Dasar dibentuknya Binmas Pioneer adalah minimnya kasus-kasus kriminal dan luasnya lahan di Papua yang subur namun tidak produktif. Sehingga jika personil Polri tidak banyak menangani kasus-kasus kriminalitas (gangguan kamtibmas), akan sangat berguna jika diberikan kemampuan dan ketrampilan. Kemampuan dan ketrampilan yang dimiliki anggota Polri di Papua inilah yang menjadi tujuan dari Binmas Pioneer.

Konsep Binmas Pioner esensinya adalah membangun interaksi petugas Polri yang telah dibekali kemampuan-kemampuan yang dibutuhkan untuk membantu masyarakat dengan memberikan contoh atau sebagai pioneer di lingkungannya bertugas. Bentuk-bentuk kemampuan tersebut adalah pertukangan, pertanian, perkebunan, peternakan maupun perikanan. Bahkan Pak Muharsipin membangun suatu wilayah di daerah Arso (Polres Keerom kini), yang diberi nama “Latram (Latihan Ketrampilan) Binmas Pioneer”. Di lokasi tersebut, anggota Polda Papua diberikan pelatihan, pembekalan dan ketrampilan sesuai keperluan. Alhasil, saya mengikuti 3 (tiga) kali pelatihan tersebut dan pernah memiliki lahan (spot) atas nama Polsek Jayapura Utara. Dengan kemampuan tersebut, anggota Polri bisa membantu masyarakat di lingkungannya.

Sementara konsep Binmas Noken adalah interaksi Polri langsung memberikan bantuan dan memberdayakan masyarakatnya. Dengan demikian Sumber daya menjadi begitu penting dalam hal ini. Maka political will Pimpinan Polri menjadi kuncinya. Program Binmas Noken ditujukan untuk memenuhi kebutuhan dasar (basic needs), memfasilitasi pengajaran dan melakukan pendampingan kepada masyarakat. Bentuk-bentuk kegiatan yang digelar pada prinsipnya adalah, sesuai kebutuhan, kebiasaan, sederhana (tidak rumit) dan tidak terlalu lama. Adapun wujud kegiatannya seperti bertani, berkebun, beternak dan mengajarkan anak-anak dengan metode “trauma healing”. Sasaran akhirnya adalah masyarakat produktif dengan aktifitas pemenuhan kesejahteraan mereka dan tidak lagi berfikir membangun ideologi yang berlawanan dengan NKRI.

Noken, bagi orang di luar Papua mungkin ada yang tidak tahu atau memahami, baik secara harfiah maupun filosofinya. Secara harfiah noken merupakan kantong atau tas secara tradisional khas Papua. Noken ada yang terbuat dari bahan alami, seperti tumbuhan (kulit kayu, bunga anggrek, dll), namun juga sudah banyak terbuat dari bahan-bahan modern. Noken telah menjadi salah satu kerajinan tangan khas Papua. Konon keahlian membuat noken ini didapatkan mama-mama dari para misionaris jaman Belanda. Kebiasaan yang terus mereka jaga hingga hari ini. Hingga saat ini masih dijumpai dengan mudah mama-mama yang sedang bersantai, bercengkerama sambil menganyam noken.

Secara filosofi, noken dimaknai sebagai wadah atau tempat untuk menampung segala aspirasi, usulan, keluhan, permasalahan warga masyarakat untuk dicarikan solusinya. Sementara kaum perempuan biasanya menggunakan noken yang lebih besar yang diletakkan di bagian belakang dengan tali yang dikaitkan di kepala untuk menenteng bawaan Biasanya hasil kebun (sayuran, umbi-umbian), kayu, anak babi bahkan anak mereka. Membawa beban seberat itu sampai berkilo-kilo meter dengan jalan kaki. Bayangkan betapa kuatnya leher dan kepala mama-mama itu. Kalau noken kecil isinya biasanya hanya keperluan sehari-hari termasuk “sirih pinang”, sedangkan tas noken yang lebih besar isinya bisa sangat beragam, disitulah Noken bermakna sebagai “kehidupan”.

Kegiatan yang bersifat fisik bangunan terdiri dari proyek-proyek berupa spot kandang babi, spot kandang ayam, spot lebah madu, spot pertanian, spot kandang kambing, maupun spot kandang sapi. Spot kandang babi tergelar di hampir semua wilayah Polres, yaitu di 9 (Sembilan) Kabupaten, seperti Yahukimo, Mimika, Puncak Jaya, Wamena, Pegunungan Bintang, Nabire, Paniai, Jayawijaya dan Nduga.

Binmas Noken. Selain melibatkan banyak tokoh-tokoh dalam mekanisme kegiatannya, juga menghadirkan figur-figur instruktur maupun pelatih. Bauk tokoh maupun pelatih (instruktur) baik berasal dari Papua maupun dari wilayah lain di Indonesia. Sementara Personil Binmas Noken Polri pada tahun pertama (2018) berjumlah 40 (empat puluh) orang yang tersebar di 9 (Sembilan) wilayah Polres. Sementara di tahun 2019 ini, personil Binmas Noken Polri berjumlah 81 (delapan puluh Satu) orang yang tersebar di 11 (sebelas) wilayah Polres.

Over all, kita wajib berterima kasih kepada Bapak Kapolri sebagai Pemimpin Tertinggi di salah satu lembaga besar di Republik ini, yaitu Polri  yang begitu cinta dan peduli terhadap Papua. Pesan Kapolri untuk “to win the heart and mind” maka bekerja dengan hati tulus dan pikiran sehat menjadi modal utama bagi personil Binmas Noken Polri berinteraksi dengan rakyat Papua. “Terima kasih, Bapak Kapolri. Sa Papua, Sa Indonesia”.

Salam Noken untuk kehidupan.