Jangan Musuhi Wamena

Oleh: Kristin Samah

WAMENA (30/9/2019)—Mendarat di lapangan terbang Wamena, Kabupaten Jayawijaya, aura kerusuhan sangat terasa. Berserakan bangkai sepeda motor, mobil, juga rumah-rumah yang terbakar.

Kalau pun bisa berkeliling melewati Jl. Gatot Subroto, Lokasi Tiga, Jl. JB Wenas, Pasarbaru, Pertigaan Pikei, Jl. Pikei, Jl. Homhom, Jl. Trans Wamena menuju Kurulu, itu karena kaca mobil dibuka supaya penduduk asli Wamena yang menemani berkeliling bisa terlihat.

Perusuh di Wamena tak berpikir rumah milik suku apa yang dibakar. Cukup ada bensin dan korek api. Rumah cepat menyala karena pada umumnya berbahan kayu, beratap seng. Bukan hanya pemukiman milik pendatang yang diserang, tetapi juga rumah-rumah penduduk asli Wamena.

Banyak pendatang yang saya temui, diselamatkan oleh penduduk asli. Mereka sudah lama hidup berdampingan, layaknya saudara, saling bantu dan saling tolong. Maka ketika perantau menjadi sasaran, mereka menjadi pagar hidup.

Perusuh datang dari depan, penduduk ketakutan, masuk ke dalam rumah. Ketika berada di dalam rumah itulah, bensin disiram, api dinyalakan. Jadilah terbakar hidup-hidup.

Aparat yang sudah mengantisipasi kejadian dengan menjaga titik-titik kemungkinan masuknya perusuh, tidak bisa bertahan karena dilempari batu, api, juga panah.

Senin, 23 September 2019, menjadi hari yang mengoyak ikatan persaudaraan antara penduduk asli Wamena dengan perantau, pendatang. Maka jangan membenci Wamena hanya karena tidak paham. Hanya melihat dari kejauhan, kemudian turut memprovokasi.

Suku asli Lembah Baliem itu memiliki tradisi perang suku. Namun perang pun ada aturannya. Siapa melawan siapa, jam berapa sampai jam berapa, sebatas mana perang dimulai dan berakhir. Bukan membakar dan membunuh tanpa sebab. Tradisi perang suku sudah lama ditinggalkan, dijadikan monumen hidup, objek wisata di Distrik Kurulu pada Festival Lembah Baliem.

Berbeda dengan tradisi perang suku, kerusuhan yang menurut Kapolri didalangi Komite Nasional Papua Barat (KNPB) benar-benar brutal. Massa turun dari pegunungan yang menjadi basis Kelompok Kriminal Bersenjata. Mereka membawa senjata tajam, termasuk chain saw, alat untuk menebang pohon.

Perusuh menyebar kebencian dan memprovokasi dengan berbagai kabar palsu. Begitu mudahnya menabuh genderang perang tanpa membangun pasukan. Cukup menyentuh sentimen yang sedang sensitif, kemudian mengobarkan kebencian secara masif.

Dipelihara kecurigaan antara perantau dan penduduk asli Wamena. Setiap hari ditiup kecemasan-kecemasan baru untuk mendelegitimasi pemerintah dan aparat keamanan.

Namun perantau dan penduduk asli Wamena menolak untuk terus tenggelam dalam ketakutan. Kota yang selama sepekan seakan mati, hari ini (30/9), kembali bergeliat. Penduduk lokal mulai memasarkan hasil bumi. Pendatang yang memutuskan untuk tetap tinggal, mulai pula menjalankan usaha.

Meskipun luka masih tetap basah, namun Wamena akan segera bangkit! (*)

About The Author

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.