Malam Jahanam

 

Oleh: Kristin Samah

JAKARTA (2/8/2019)—Hari ini, persis satu bulan yang lalu, aku bertemu dua orang guru yang mengajar di Mapenduma, Nduga, Papua. Tak ada air mata dariku, juga dari kedua orang itu meskipun kisahnya membuat darah mendidih.

Empat orang guru dan dua anak-anak, 2 Oktober 2018, mencarter pesawat Ama Pilatus, bertolak ke Mapenduma dari Wamena. Mencarter. Bahkan membayar sendiri uang sewa senilai kurang lebih Rp 23 juta.

Sempat ada yang mengingatkan untuk mengurungkan niat kembali ke Mapenduma, namun pejabat setempat meyakinkan semua baik-baik saja. Jangan tanya firasat. Pengabdian untuk anak-anak didik yang rindu guru telah mematikan rasa gentar berhadapan dengan masalah keamanan.

Tidak biasa. Dari ketinggian yang memungkinkan mata telanjang melihat ke bawah, terdapat kerumunan orang di Bandara Mapenduma. Untaian doa dan sejimpit kepercayaan bahwa sekalipun sudah menjadi dedengkot Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) tak mungkin mereka menyakiti mantan gurunya, membuat keempat orang itu menebalkan keyakinan. Semua akan baik-baik saja.

Semua akan baik-baik saja… frasa itu silih ganti dengan doa ketika beberapa orang bersenjata memeriksa barang bawaan dan menyita telepon genggam. Mereka mengintimidasi. Apa pun yang dilihat, cukup dilihat pakai mata, tidak boleh diceritakan ke orang lain, apalagi dunia luar. Anggukan setuju menjadi jaminan empat guru dan dua kanak-kanak itu meninggalkan bandara menuju rumah kontrakan.

Bertemu dengan guru dan tenaga kesehatan yang lain, yang sama-sama tinggal di satu kompleks, membuat mereka menimbamg-nimbang apa yang sebenarnya sedang terjadi.

Wingit, penuh misteri. Mereka hanya mendengar sedang ada pertemuan raya, mungkin semacam kongres. Tak lama kemudian handphone dan barang-barang yang disita di bandara dikembalikan, dengan catatan tak boleh meninggalkan tempat sampai pelantikan selesai.

Sekali lagi, jangan tanyakan firasat. Para guru dan tenaga kesehatan masuk ke pondokan masing-masing. Sebuah rumah dihuni tiga orang perempuan, satu masih gadis, dua perempuan yang sudah menikah, satu di antaranya membawa kedua anaknya yang masih kecil.

Malam pekat menggulung mereka dalam tidur nyenyak ketika menjelang dini hari, suara ketukan keras menyasar rumah yang dihuni tiga perempuan dan dua kanak-kanak itu.

“Ibu Guru… buka pintu, kita mau perlu!” Dini hari sepi, dari dalam rumah berdinding papan, teriakan itu berulang-ulang disertai ketukan keras.

Dalam hitungan detik, mereka bersiasat. Satu orang keluar dari pintu samping, meminta pertolongan. Satu orang mendekap, melindungi kedua anak, dan satu orang lagi mengunci diri di dalam kamar.

Tak ada perundingan. Ketukan tak berjawab membuat tujuh laki-laki menerabas melalui jendela. Apalagi sebentar lagi langit terang. Waktu berlalu begitu singkat bagi tujuh laki-laki biadab itu. Namun bagi tiga perempuan dan dua kanak-kanak itu, tak ada lagi hari yang lebih baik dari hari-hari yang telah berlalu.

Sinar matahari yang menerobos melalui jendela dan celah-celah dinding papan menemukan bercak darah di atas kasur tipis. Tidak… bukan bercak, karena jumlahnya cukup banyak.

Malam Jahanam… malam ketika seorang perempuan diperkosa tujuh laki-laki. Malam ketika hari-hari berikutnya berlalu dengan sebuah ancaman. Kalian hanya boleh meninggalkan Mapenduma kalau berjanji tidak akan lapor polisi atau menceritakan pada siapa pun. Malam Jahanam… (*)

About The Author

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.